Cari Blog Ini

Kamis, 21 Juli 2016

Seri Psikologi Islam 3

Dilema Pendidikan Islam

Umat Islam merupakan kelompok mayoritas yang menghuni negeri Indonesia tercinta ini. Menurut data kependudukan umat Islam berkisaran 80% dari total seluruh jumlah penduduk Indonesia, bahkan di dunia negara yang memiliki penganut Islam terbesar termasuk Indonesia di dalamnya. Dengan jumlah yang cukup besar tersebut umat Islam secara ekonomi, politik, sosial, budaya, dan pendidikan memiliki andil yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Salah satu aspek yang penting bagi kelangsungan kebaragamaan umat Islam adalah sektor pendidikan. Sebab pendidikan memiliki peran vital dalam pewarisan ajaran Islam dari generasi ke generasi, sejak dahulu hingga sekarang dan menuju masa yang akan datang.

Minggu, 17 Juli 2016

Seri Psikologi Islam 2

Mengapa Harus Menikah?

Perkembangan zaman mengubah sudut pandang manusia dalam berbagai hal. Dahulu tertawanya seorang gadis sungguhlah mahal (jarang bisa dilihat laki-laki), sekarang kita tinggal lihat TV, maka akan kita temukan banyak gadis yang tertawa terbahak-bahak. Dahulu gadis merasa malu pada orang tuanya, bila ada laki-laki asing yang apel kerumahnya, sekarang dengan mudahnya anak gadis minta ijin orang tuanya pergi kencan bersama pacarnya. Dahulu, laki-laki yang kebanci-bancian atau perempuan yang kelaki-lakian merasa malu bila diejek teman-temannya, sekarang justru menjadi tren dan tradisi pergaulan muda-mudi. Dahulu, bila gadis melampaui umur 25 tahun tidak juga menikah, orang tuanya merasa malu bukan main, sekarang wanita banyak memilih tidak menikah karena alasan karir, bahkan memilih mengadopsi anak ketimbang menikah. Begitulah zaman (baca : masa) selalu berubah seiring waktu. Maka di dalam surat al-'Ashr Allah berkalam yang artinya "Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, serta saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan nasehat-menasehati dalam kesabaran".

Sabtu, 16 Juli 2016

Seri Psikologi Islam 1

Mempersiapkan Diri Menuju Bahtera Rumah Tangga

Rumah Tangga atau keluarga adalah fondasi penting dalam merajut kesatuan umat. Maka ada kata-kata hikmah mengatakan bahwa "Keluarga yang kokoh menciptakan bangsa negara yang kuat". Keluarga dalam Ilmu Kewarganegaraan juga disebut sebagai Soko Guru persatuan dan kesatuan bangsa, maka peran keluarga dalam membangun suatu bangsa tidak bisa disepelekan. Sejatinya bangsa yang bermartabat memperhatikan setiap keluarga di dalam bangsanya.

Minggu, 22 November 2015

BAHASA KIASAN DALAM PENDIDIKAN ANAK DI MINANGKABAU

Oleh : Syahri Ramadhan

Di era tahun 90an bisa dikatakan sebagai akhir dari kejayaan kearifan lokal budaya tradisional, misalnya di Minangkabau. Sebab, ketika memasuki era milenium ke 2 (tahun 2000) kearifan lokal di Minangkabau mulai tergerus oleh arus globalisasi dan westernisasi. Para budayawan sepakat bahwa faktor utama yang menyebabkan asimilasi kebudayaan adalah perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang begitu cepat. Sementara menurut agamawan juga disebabkan oleh semakin melemahnya Iman dan Takwa (IMTAK) masyarakat yang semakin menjauh dari nilai-nilai agama yang mereka anut. Selain kedua faktor utama tersebut, ada beberapa faktor pendukung yang memperkuat asimilasi kebudayaan seperti tingkat pendidikan yang masih rendah, peran tokoh adat dan agama yang mulai melemah, dan arus budaya asing, terutama budaya Barat yang begitu cepat masuk ke cela-cela kehidupan masyarakat yang belum siap menerimanya, sehingga mengakibatkan shock culture.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Nasehat Sebagai Media Pendidikan Islam

Oleh : Syahri Ramadhan

Suatu ketika, orang tua saya pernah bercerita. Meskipun orang tua saya tidak mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi, karena sekolahnya hanya sampai sekolah menengah pertama, tapi saya bisa menangkap dari ceritanya bahwa sudah terjadi demoralisasi ditengah-tengah masyarakat saat ini. Mungkin bukan orang tua saya saja yag merasakannya, karena permasalahan ini sudah menjadi topik hangat (hot topic) yang ramai diperbincangkan para praktisi maupun akademisi yang prihatin dengan shock culture (goncangan budaya) yang dialami bangsa Indonesia saat ini.

Waktu Maghrib dan Shubuh dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islami

Oleh : Syahri Ramadhan, S.Psi., M.S.I.
Salah seorang jama’ah di sebuah masjid bertanya dengan nada agak protes. Persoalannya adalah di waktu maghrib (baca: pergantian waktu dari siang ke malam) banyak anak-anak yang datang ke masjid dan berbuat keramaian, sehingga pelaksanaan ibadah salat menjadi tidak tenang. Sebetulnya, sebagian anak datang bersama orang tuanya dan sudah dikondisikan sebelum salat dilaksanakan. Namun, namanya ‘anak-anak’ tidak betah berdiri tenang mengikuti salat, satu sampai dua menit mereka ramai lagi.

Jumat, 24 Oktober 2014

Kapan Anak Diajari Membaca?

KAPAN ANAK DIAJARI MEMBACA ?

I.            Pendahuluan
Menurut Woodhead (2006), anak adalah masa ketika manusia sangat tergantung pada rasa aman, hubungan responsif dengan orang lain (orang dewasa, saudara dan teman sebaya), bukan hanya untuk menjamin kelangsungan hidup mereka, tetapi juga keamanan emosional mereka, integrasi sosial dan kompetensi kognitif dan budaya. Anak merupakan manusia kecil yang penuh dengan keunikan, lucu, dan lugu. Seketika mereka bisa tertawa, tapi tiba-tiba bisa juga menangis yang sebabnya hal sepele. Tingkah laku mereka yang polos membuat orang dewasa tertawa, terharu, kadang kala juga kebingungan. Sebab apa yang anak-anak inginkan tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh orang dewasa.

Translate