Cari Blog Ini

Jumat, 28 Juni 2013

Tugas-Tugas Pendidik


Diambil dari: Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali

Oleh: Syahri Ramadhan, S.Psi


“Barang siapa yang menjalankan tugas sebagai pendidik, maka ia harus mempelajari hal besar. Oleh sebab itu, hendaklah ia memelihara tatakrama dan tugas-tugasnya".

Tugas pertama, menunjukan kasih sayang kepada murid dan memperlakukannya sebagai anak sendiri. Sebagaimana sabda Rasulallah “Sesungguhnya (kasih sayang)-ku pada kalian laksana (kasih sayang) seorang ayah kepada anak-anaknya”. Bahkan jika dicermati secara mendalam, guru adalah orang tua yang sebenarnya. Sebab ayah adalah penyebab lahirnya seorang dikehidupan dunia fana ini, sedangkan seorang guru (bisa jadi) adalah penyebab seorang di kehidupan yang kekal di akhirat (surga). Oleh sebab itu, hak guru lebih di utamakan dari pada hak kedua orang tua.

Tugas kedua, meneladani perilaku Rasulallah yang tidak pernah meminta upah atas apa yang diajarkannya. Maka janganlah seorang pendidik meminta upah atas pelajaran yang diberikan kepada muridnya. Allah berfirman “Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih”. (QS. al-Insan: 9). Jikalau mereka memiliki hak untuk menerima upah (pemberian) atas mereka. Maka terimalah pemberian itu dalam bentuk dikarenakan mereka menjadi penyebab dirinya dapat mendekatkan diri kepada Allah dengan menanamkan iman dan ilmu di dalam hati mereka”.

Tugas ketiga, jangan menyimpan nasehat; seperti menasehati muridnya untuk tidak melakukan perlawanan demi suatu kedudukan sebelum sang murid memang berhak memperolehnya dan melarangnya untuk mempelajari ilmu tersembunyi sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang tampak.

Tugas keempat, menasehati sang murid untuk tidak berperilaku tercela. Namun hal ini jangan dilakukan secara terang-terangan, melainkan dengan cara menunjukan kemuliaan. Seyogyanya seorang pendidik harus memiliki sifat istiqamah terlebih dahulu, baru kemudian meminta muridnya untuk ber-istiqamah pula. Jika tidak demikian, maka nasehat yang diberikan tidak berguna, sebab member teladan dengan perbuatan itu lebih kuat (pengaruhnya) dari pada dengan ucapan. (Ringkasan Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, karya Imam al-Ghazali: hal, 51-53. Jakarta: Sahara).

Namun, realitanya sekarang sebutan “guru” hanya sebatas symbol yang dilegalkan para pendidik untuk sebutan para murid mereka kepadanya. Ironisnya pada zaman yang serba canggih ini guru tidak lagi bisa memberikan tauladan kepada murid-murid mereka, mungkin tidak semuanya juga, masih ada sedikit “guru” satu dalam interval seratus yang masih bisa menjadi tauladan bagi murid-murid mereka. Walaupun demikian dunia pendidikan kita khususnya di Indonesia sangat disayangkan jika kedepannya masih seperti ini keadaannya.

Dua tahun belakangan ini tidak sedikit kita dengar maupun kita lihat di media masa atau pun mungkin ada diantara kita yang melihatnya dengan mata kepala kita sendiri kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan khususnya antara guru dengan murid. Guru tidak lagi merasa malu “menghajar” muridnya secar terang-terangan dihadapan semua siswa seperti yang kita lihat di beberapa rekaman yang diberitakan beberapa waktu yang lalu. Alasannya sepele, anak didik mereka tidak lagi mau diatur, sering cabut, merokok, tidak ikut upacara bendera, pakaiannya tidak rapi, atau keluyuran saat jam pelajaran berlangsung. Jelas, semua alasan ini ditujukan kepada anak didik, tampa ada sedikit pun para pendidik (guru) merasa bersalah atas semua ini.

Banyaknya terjadi kekerasan di dunia pendidikan menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak menemukan jawaban. Misalnya, siapa yang harus disalahkan dalam hal ini? Murid kah, guru kah, pemerintahkah, atau system pendidikan kita yang salah? Sebetulnya semua ini tidak perlu terjadi jika kita kembali memegang teguh kode etik yang telah disyari’atkan oleh Rasulallah sang utusan pembawa kebenaran dari yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Sebagaimana yang telah dipaparkan di awal tulisan ini Imam al-Ghazali telah menyebutkan di dalam kitabnya “Ihya’ ‘Ulumuddin” bagaimana seharusnya seorang guru beretika terhadap murid-muridnya? Jelas bahwa guru sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan seseorang baik untuk di dunia maupun kelak di kehidupan sesudah mati.

Sekarang, mari kita coba mengintrospeksi diri kita masing-masing (para guru), sudah sejauh manakah kita menganggap murid kita? Apakah hanya sebatas anak didik di dalam ruangan kelas saja? Sudahkah kita ikhlas dalam memberikan ilmu kita kepada anak didik kita? Apakah kita mendidik hanya sekedar memenuhi tugas sebagai seorang PNS atau memang kita tulus untuk mengabdi dan mengharap ridho Allah? Apakah selama ini kita hanya memberikan contoh (tauladan), ataukah kita sudah bisa menjadi contoh (tauladan yang baik) bagi para anak didik kita? Dan banyak lagi peretanyaan yang harus kita jawab, maka renungkanlah!

Jika seorang pendidik sudah bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi para muridnya maka keharmonisan dalam proses belajar mengajar (pendidikan) akan tercipta antara seorang guru dengan muridnya. Perintah guru akan dipatuhi oleh muridnya, guru akan dihargai, dihormati dan dianjung oleh para muridnya karena kemuliaan akhlak seorang guru akan selalu lekat dihati seorang murid.

Guru yang memiliki akhlak yang mulia dan sadar bahwa dia adalah orang yang akan di contoh oleh para muridnya, tidak akan pernah sedikitpun merusak atau melanggar kode etik seorang guru. Sehingga tidak akan kita temui lagi guru yang kelayapan waktu jam dia seharusnya mengajar di dalam kelas, guru yang merokok dilingkungan sekolah padahal dia melarang para muridnya untuk merokok, guru yang “menghajar” para muridnya karena berbuat salah padahal dia melarang kekerasan, guru (perempuan) yang memakai pakaian ketat sedangkan mereka melarang para siswinya untuk tidak berpakaian ketat, guru yang egois mengatakan bila ditegur muridnya “Itu hak kami, kalian tidak usah mengatur-atur kami” padahal mereka (guru) melakukan kesalahan, tapi tidak mau menerima kebenaran dari muridnya.

“Lima Kunci Menuju Sukses Dengan Kekuatan Spritrual”


Oleh: Syahri Ramadhan, S.Psi

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.(QS al-Baqarah: 200-201).



Sukses”, siapa sih yang tidak familiar dengan kata yang satu ini? Setiap orang pasti ingin menjadi orang yang ingin sukses, baik itu sukses dalam belajar, sukses dalam membina keluarga, sukses dalam berusaha, sukses dalam karier, dll. Tapi tidak semua orang bisa meraih yang namanya ‘sukses’. Bisa jadi ini terjadi karena diferensiasi metode yang dilakukan orang dalam meraih sukses dan tingkat ketekunan dan kegigihan (keistiqomahan) mereka. Orang yang bisa meraih kesuksesan dalam hidupnya pasti akan senang dan selalu optimis, begitu juga sebaliknya orang yang gagal dalam hidupnya akan pesimis dalam menjalani hidup. Karena itulah watak manusia, mereka tidak bisa mengambil pelajaran (i’tibar/faedah) dibalik realita. Dilain sisi, orang pada umumnya mengidentikkan sukses dengan kebebasan financial, punya asset yang banyak, penghasilan diatas 50 juta perbulan, punya rumah dan mobil mewah. Itukan hanya persepsi nafsu duniawi belaka, tapi realitanya banyak mereka yang punya banyak asset, penghasilan diatas 50 juta perbulan, rumah dan mobil mewah tapi hati mereka tidak senang setenang seperti apa yang orang miskin banyak pikirkan, jiwa mereka penuh dengan was-was. Namun, tidak sedikit orang yang hidupnya sederhana bisa ‘sukses’ dalam hidupnya, hatinya tenang dan bahagia.

Nah, sekarang bukan saatnya lagi pola pikir kita dikuasai dengan yang namanya ‘sukses berarti finansial’ tapi bukan berarti kita menafikan pentingnya financial, bahkan sangat penting. Oleh karena itu kita harus berhijrah metode meraih sukses dari ‘persepsi financial, duniawi, dan nafsu belaka’ kepada sukses dengan ‘kekuatan spriual’ yang akan mengantarkan hidup kita ‘sukses financial’ dan sukses ‘jiwa’ artinya balance antara duniawi dan ukhrawi.

Langkah sukses pertama, istifaedah, orang bijak selalu bilang “semua peristiwa itu ada hikmahnya”, dalam al-Quran Allah ta’ala juga berfirman” Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan. (Qs al-Hasyr: 2). Allah ta’ala tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatu. Dia menciptakan surga supaya manusia cenderung kepadaNya, Dia menciptakan neraka supaya manusia takut dengan siksaaan-Nya dan senantiasa menjauhi dosa, Allah ta’ala menciptakan manusia yang jahat agar manusia yang hasan bisa menasehati dan saling tolong menolong untuk kebaikan dan taqwa (lihat QS al-Maidah: 2). Begitu juga kita dalam menghadapi kehidupan dibalik kegagalan yang kita hadapi pasti ada hikmahnya dan dibalik kesuksesan yang kita miliki juga ada hikmahnya karena Allah ta’ala tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Maka, hanya orang-orang yang memiliki wawasan (ilmu) lah yang bisa mengambil faedah dibalik realita kehidupan.

Kedua, istiqamah atau teguh pendirian, roda kehidupan memang tidak selalu berada di atas terkadang kita berada di bagian bawah, badai disertai angin kencang dan hujan selalu menerjang biduk kehidupan yang kita tumpangi, sehingga membuat kita oleng kekiri ataupun kekanan, terkadang biduk kita hampir tenggelam bahkan ada yang tenggelam karena terpaan badai yang kuat dan besar. Namun, orang yang optimis, pantang menyerah dan teguh pendirian akan berusaha sekuat tenaga mencapai pulau sukses mereka “patah dayungnya mereka gunakan tangan sebagai penggantinya, robek layarnya mereka ganti dengan baju mereka, tenggelam biduk mereka, mereka berenang mengarungi lautan walaupun terkadang terombang ambing terhempas ombak”. Orang sukses semuanya berangkat dari perjuangan kecil yang mereka rintis, ini realita kalu kita belajar dari orang-orang sukses yang ada di Indonesia boleh kita lihat biografi mereka, ada yang sekolah sambil jualan di pasar, jadi buruh, jualan gorengan sambil sekolah, dll. Atau para pengusaha yang sukses mereka terkadang juga ada yang bangkrut alias gulung tikar, tapi mereka berusaha bangkit dan bangkit. Ingatlah, tidak semua orang mengarungi samudra dengan kapal yang besar, tapi banyak diantara mereka yang mengarungi samudra dengan biduk kecil, namun mengapa mereka berhasil? Jawabannya “istiqamah”, Allah ta’ala berfirman “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka sendiri yang merubah nasibnya”.(QS ar-Ra’ad: 11).

Ketiga, istisyarah, Allah ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.(QS as-Syura: 38). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa merupakan suatu kewajiban untuk bermusyawarah dalam urusan dunia. Dalam bermusyawarah akan muncul solusi-solusi bermutu dan ide-ide cemerlang yang bisa membantu penyelesaian masalah, karena Allah ta’ala akan membukakan jalan permasalahan bagi siapa yang mengharap rahmat dari musyawarah itu. Orang Minang punya pepatah “duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang” artinya menyelesaikan masalah tanpa musyawarah itu sulit, tapi jika dengan musyawarah masalah itu cepat terselesaikan. Pepatah ini senada dengan apa yang Allah perintahkan dalam al-Qur’an “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu”. (QS al-Mujadalah: 11).

Keempat, istikharah, hidup itu terkadang pilihan, dalam perkara apaupun kita selalu dihadapkan kepada pilihan. Masing-masing pilihan mesti punya konsekwensi yang terkadang kita ragu dalam menentukan pilihan kita karena mempetimbangkan konsekwensi dari pilihan itu. Banyak orang menyesal setelah mereka menentukan pilihan mereka dan gagal bahkan mereka mengumpat diri mereka sendiri. Ini tentu sangat berbeda dengan orang yang ‘istikharah’, dalam menentukan pilihan mereka selalu meminta pertolongan Allah ta’ala. Kalau pilihan mereka itu berakibat baik pada diri mereka maka mereka akan bersyukur pada Allah ta’ala, tapi jika pilihan mereka itu membuat mereka rugi atau buruk bagi mereka, mereka tetap sabar dan yakin bahwa dibalik realita ini pasti Allah mempersiapkan kebaikan yang banyak. Itulah bedanya orang yang istikharah dan yang tidak. “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka]. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)”. (QS al-Qashas: 68). Oleh karena itu, bawalah Allah setiap anda menentukan pilihan, insya Allah anda akan mendapatkan kebaikan yang banyak.

Kelima, istijabah, kewajiban manusia adalah berikhtiar (berusaha), apa yang menjadi hasilnya nanti adalah urusan Allah ta’ala. Namun disamping itu kita juga harus beristijabah (berdo’a/memohon) kepada Allah ta’ala sebagai penguat ikhtiar yang telah kita usahakan. Beristijabah kepada Allah ta’ala merupakan suatu ibadah sebagaimana perintah Allah “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(QS al-Mu’min: 60) (yang dimaksud menyembah-Ku adalah beribadah kepada-Ku). Disurat lain Allah ta’ala juga berfirman ” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.(QS al-Baqarah: 186).

Sebagai seorang Muslim yang menjadi patokan kesuksesan kita adalah Rasulallah saw. Dan para sahabat-sahabatnya, misalnya Umar ra memiliki 70.000 property, Usman ra memiliki property disepanjang wilayah Aris dan Khibar, belum lagi sahabat Abdurrahman bin Auf, Amru bin Ash, Zubair, dan Mu’awiyah, dll. Kesuksesan mereka bukan hanya diakui secara duniawi saja melainkan juga secara ukhrawi mereka adalah para ahli sorga yang Allah janjikan atas mereka. “Bukanlah kaya (sukses) orang yang banyak hartanya, tapi orang yang kaya (sukses) adalah orang yang kaya jiwanya” (HR Bukhari & Muslim dari Abi Hurairah ra).

“KEUTAMAAN PUASA”


Oleh: Syahri Ramadhan, S.Psi

Banyak sekali ayat yang tegas dan muhkam (Qath'i) dalam kitabullah yang mulia, memberikan anjuran untuk puasa sebagai sarana untuk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaannya, seperti firman Allah Ta'ala yang artinya :"Sesungguhnya kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, kaum pria yang patuh dan kaum wanita yang patuh, dan kaum pria serta wanita yang benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yang sabar (ketaatannya), dan kaum pria serta wanita yang khusyu', dan kaum pria serta wanita yang bersedeekah, dan kaum pria serta wanita yang berpuasa, dan kaum pria dan wanita yang menjaga kehormatannya (syahwat birahinya), dan kaum pria serta kaum wanita yang banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Surat Al-Ahzab : 35)



Dan firman Allah yang artinya :"Dan kalau kalian puasa itu lebih baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya". (Surat Al-Baqoroh : 184) Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yang shahih bahwa puasa adalah benteng dari syahwat, perisai dari neraka, Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengkhususkan satu pintu syurga untuk orang yang puasa, puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwatnya, menahannya dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek, hingga jadilah jiwa yang tenang. Inilah pahala yang besar, keutamaan yang agung, dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini, dijelaskan dengan penjelasan yang sempurna.

Pertama puasa sebagai perisai, "Wahai sekalian para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dengan berbagai macam persiapannya), hendaknya menikah, karena menikah lebih menundukan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya." HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Mas'ud.

Kedua puasa bisa memasukksan seorang hamba kedalam surga, Dari Abi Umamah radhiallahu 'anhu :"Aku berkata : "Ya Rasulullahu Shalallahu 'alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yang bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: "Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu."  (HR Nasa'I (4/165), Ibnu Hibban (hal. 232 Mawarid), Al-Hakim (1/421) sanadnya SHAHIH)

Ketiga orang yang berpuasa diberi pahala yang tidak terhitung, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum dari misik, dan orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan. Dari Abi Hurairah radhiallahu 'anhu : Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:"Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa (pahalanya tak terbatas), karena puasa itu untuk Aku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, ucapkankanlah : "Aku orang yang sedang puasa (ucapan dengan lisan) [1], demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguhnya bau mulut orang yang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk [2], orang yang puasa punya dua kegembiraan, jika berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabbnya gembira karena puasa yang dia lakukan. (HR. Bukhri (4/88), Muslim (no. 1151) ini lafadz Bukhori)Dalam riwayat Bukhori : "Meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Aku, puasa itu untuk-Ku. dan Aku yang akan membalasnya. kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat." Dalam riwayat Muslim : "Semua amalan Ibnu Adam dilipat gandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali, sampai tujuh ratus kali lipat, Allah Ta'ala berfirman : Kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dan meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku, bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka, dan gembira bertemu dengan Rabbnya, dan sungguh bau mulut orang yang puasa disisi Allah adalah lebih wangi dari pada baunya misk."

Keempat, puasa dan Al-Qur’an akan memberika syafa’at bagi ahlinya, Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Puasa dan Al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat, puasa akan berkata : "Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah dia syafaat karenaku, Al-Qur'an pun berkata : "Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : "maka keduanya memberi syafaat. [1]"  (Diriwayatkan oleh Ahmad (no.6626), Hakim (1/554), Abu Nu'aim (8/161) dari jalan Huyyay bin Abdullah, dari Abdurrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin Amr. Dan sanadnya HASAN)

Kelima, puasa adalah kafarat. "Fitnah pria dari keluarga (istri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa, dan shodaqoh."  (HR. Bukhori (2/7) Muslim (144)). Penjelasan ini juga terdapat dalam al-Qur’an (Surat Al-Mujadalah :3-4, Al-Maidah : 95, al-Baqoroh : 196, An-Nisaa' :92, Al-Maidah ayat : 89.
Rayyan bagi orang yang berpuasa. Dari Sahl bin Sa'ad radhiallihu 'anhu, dari Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : "sesungguhnya dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. jika telah masuk orang terahir yang puasa ditutuplah pintu tersebut, barang siapa yang masuk akan minum, dan barang siapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya." (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahihnya (1903). Diambil dari Shifati Shaum Nabi Saw Fii Ramadhan oleh Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

“MENTARBIYAH ANAK DARI DINI DENGAN TAUHID”

Oleh: Syahri Ramadhan, S.Psi 

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS. al-A’raf: 172).



Fitrahnya manusia sudah dipersaksikan oleh Allah untuk mengakui bahwa Allah adalah tuhan Yang Maha Esa, Allah terlebih dahulu telah mentarbiyah setiap jiwa manusia dengan tauhid jauh sebelum manusia dilahirkan pada saat roh akan ditiupkan ke dalam kandungan seorang calon ibu. Tidak cukup hanya itu Rasulallah juga mengajarkan kepada kita untuk mengazankan dan mengiqomahkan setiap bayi yang baru lahir. Pada hakikatnya syari’at tersebut adalah untuk mentarbiyah manusia dengan pendidikan tauhid. Lalu mengapa manusia kebanyakan lupa dengan janji mereka kepada Rabbul ‘alamin? Mensekutukan Allahdengan selain-Nya? Menjadi penyembah harta, tahta dan wanita? Allah telah menjawabnya dengan kalamNya yang mulia “(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Lengah, lupa, khilaf, dan salah memang sifatnya manusia. tapi hanya manusia yang lemah imannya yang bisa dimainkan oleh watak mazmumah tersebut. Oleh karena itu kita sebagai orang tua atau pendidik, merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk menjaga keluarga kita, membimbing mereka, dan mentarbiyah mereka kepada jalan tauhid serta memelihara mereka dari azab Allah yang sangat pedih “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. at-Tahrim: 6). Oleh karena itu kita wajib mencontoh Rasulallah sebagai seorang figure yang patut diteladani dalam mentarbiyah tauhid kepada sahabat-sahabanya bahkan dari sahabat yang masih belia sekalipun.
Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu: “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajar engkau beberapa kalimat:
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu…
Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu…
Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah…
Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah…
Ketahuilah…kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu)…
Ketahuilah… kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu)…
Pena telah diangkat… dan telah kering lembaran-lembaran…(hadits riwayat Tirmidzi, Hasan, shahih).
Disaat orang tua khawatir dengan dekadansi akhlak, goyahnya akidah yang terjadi dikalangan putra-putri mereka, apalagi zaman sekarang semua orang berlomba-lomba untuk mencari kesenanngan dunia dengan menghalalkan segala cara. Hangat-hangatnya saat ini orang tua akan bangga jika anak mereka mendapatkan nilai yang bagus pada mata pelajaran bahasa inggris, matematika, ekonomi, bisa lulus dengan nilai yang bagus dan dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah atau perguruan tinngi ternama di negeri ini. Tidak hanya itu mereka juga mau mengeluarkan uang berapapun bagi putra-putri mereka asal bisa sekolah atau kuliah di PTN ternama tersebut, mereka keluarkan uang yang tidak sedikit untuk biaya les atau bimbel, tapi mereka lupa anak-anak mereka jauh dari pendidikan tauhid, mereka tidak pernah memperhatikan atau menanyakan “ Udah salat, nak?”.
Apakah tradisi mendidik anak yang salah seperti ini akan tetap kita warisi? Memang kita tidak memungkiri pendidikan duniawi juga perlu diberikan kepada anak kita untuk masa depan mereka. Tapi disamping itu kita sangat perlu lagi menanamkan dasar akidah yang kuat kepada mereka dari dini, sehingga jika mereka menjadi seorang jendral akan menjadi jendral yang beriman, seorang mentri akan menjadi mentri yang beriman, seorang presiden presiden yang beriman. Jika iman sudah melandasi amal mereka maka kita tidak perlu lagi berurusan dengan para koruptor, tikus-tikus kantor yang menjadi “Srigala berbulu Domba” yang bisa cuman berjanji dan menjilat.
Setiap orang tua pasti punya keinginan agar anaknya menjadi anak yang saleh dan saleha, bisa memberikan pensiunan pahala bagi mereka jika mereka telah meninggal nanti dengan do’a anak-anak mereka yang saleh dan saleha, dan tidak ada orang tua yang mengiginkan anak mereka menjadi anak yang salah, malah menghambat orang tua mereka masuk sorga. Maka kita patu menauladani Nabi Yaqub ketika member nasihat kepada anak-anaknya “Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS al-Baqarah: 133).
Sekarang pagi-pagi sekali orang tua telah menanyakn kepada anak mereka “Apa yang akan kau makan sepeninggalku?” sehingga orientasi anak mereka adalah dunia dan menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Agar anak kita menajdi anak yang saleh dan menjadi pensiunan pahala bagi kita maka ajarkanlah anak kita dari dini dengan tauhid, dan orientasikanlah hidup mereka dengan nafas-nafas tauhid dengan memberikan pertanyaan “Apa yang akan kau sembah sepeninggalku, nak?.

Selasa, 25 Juni 2013

“Anakku, Sembahlah Allah!...Walaupun Ayahmu Sudah Tidak Ada”



Oleh : Syahri Ramadhan, S.Psi



“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami akan menyembah Ilah-mu dan Ilah nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) ilah yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (QS.Al-Baqarah [2]:133)




Pembaca yang budiman. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah Swt kepada setiap orang tua. Oleh karena itu setiap orang tua wajib menjaga amanah yang dititipkan Allah Swt kepada mereka. Kalau orang tua pandai dalam menjaga amanah tersebut maka anaknya akan membawa mereka ke surgaNya Allah Swt. Tapi sebaliknya, kalau mereka lalai dalam menjaga amanah dan menyia-nyiakannya maka dia akan menjerumuskan orang tuanya kedalam kemurkaan Allah dan nerekaNya. Kepada para orang tua Allah swt telah memberikan peringatan “ Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal [8] : 28). Kemudian Allah juga memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka “ Hai, orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…”. (QS At-Tahrim [66] : 6).

Anak merupakan amanah dan fitnah yang sangat besar yang diberikan Allah Swt kepada orang tua sehingga Allah swt memperingatkan orang tua di dalam Al-Qur’an yang mulia. Supaya amanah tersebut tidak menjadi fitnah yang buruk maka kita wajib mentarbiyah anak-anak kita dengan aqidah tauhid sejak dini sebagaimana ajaran yang dibawa Nabi Saw. Mengajarkan aqidah tauhid kepada anak sejak dini merupakan suatu langkah yang baik untuk membentengi intelektual anak kedepannya. Pondasi aqidah tauhid yang kokoh akan menciptakan intelektual-intelektual Muslim yang berakhlak mulia. Karena esensinya aqidah tauhid mengajarkan kepada manusia untuk menjadi makhluk yang berakhlak al-karimah atau al-mahmudah. Sehingga apabila aqidah tauhidnya telah tertanamkan dengan baik dan tumbuh didalam diri anak, maka mau menjadi apapun seorang anak akan menjadi orang yang baik, mau menjadi presiden akan menjadi presiden yang beriman, mau menjadi jenderal dia akan menjadi jenderal yang beriman, mau menjadi politikus dia akan menjadi politikus yang beriman. Sehingga orientasi hidup mereka bukanlah untuk mencapai kenikmatan dunia semata (hedonisme), tapi mengutamakan kepentingan akhirat dari pada kepentingan dunia karena mereka sadar bahwa kehidupan akhirat lebih baik bagi mereka dari pada kehidupan dunia “walal ākhiratu khairul laka minal ûlā”. (QS. Adh-Dhuha [93] : 4).

Memang sebuah tantangan yang sangat berat bagi orang tua untuk mendidik anak menjadi anak yang saleh. Apalagi zaman sekarang, berbagai godaan datang dari luar dengan menawarkan berbagai macam pendidikan yang kata mereka bisa menjamin masa depan anak didik mereka. Metode-metode pendidikan dimodifikasi sedemikian rupa, sistem-sistem infiormasi dan komunikasi dimasukkan ke dalam dunia pendidikan sebagai standar kebagusan suatu lembaga pendidikan. Memang, cara tersebut tidak salah, bahkan juga memberikan kontribusi yang positif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Akan tetapi, ada satu hal yang terlupakan, metode pendidikan yang diterapkan di berbagai lembaga pendidikan pada umumnya jauh dari nilai-nilai Islam. Pendidik sekarang secara umum hanya menjiplak teori-teori Barat secara tidak adaptif. Secara logika saja kita bisa menyadari bahwa belum tentu teori-teori Barat cocok dengan kebudayaan timur kita, terutama ideology keIslaman. Sesuatu yang dianggap normal di Barat belum tentu normal di dalam Islam, begitu juga sebaliknya, sesuatu yang dianggap abnormal di Barat belum tentu abnormal di dalam Islam. Sehingga kita perlu kembali menggali nilai-nilai psikis dalam Islam, sebagai mana yang telah diajarkan Nabi saw.

Suatu realita yang sangat ironi sekali. Jika, pagi-pagi sekali orang tua telah menanyakan kepada anak-anak mereka “mā ta’kulûna min ba’di?” atau “apa yang akan kamu makan sepeninggalku nanti, nak?”. Ini merupakan salah satu dampak dari ketidak pahaman orang tua akan hakikat hidup. Sehingga sejak dini mereka telah menanamkan hedonisme (hubuddunya) pada anak-anak mereka. Selanjutnya orang tua akan memasukkan anak-anak mereka ke lembaga-lembaga pendidikan yang bonafit, mereka rela mebayar berapapun asal anak-anak mereka terjamin masa depannya. Padahal, Islam telah mengajarkan bahwa pendidikan ilmu agama lebih utama dari pendidikan ilmu dunia “Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang di beri ilmu beberapa derajat”.(QS. Al-Mujadalah [85] : 11). Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud “orang-orang yang diberi ilmu” disini adalah orang-orang yang diberi ilmu tentang agama. Kemudian didalam hadits dari Bukhari Nabi saw juga bersabda “Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan atasnya, maka Allah pahamkan ia agama”.

Nabi Ya’kub as. telah mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara mendidik anak dengan baik “Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”. Kemudian Nabi saw juga mengajarkan kita pentingnya mendidik anak- dengan tauhid sejak dini, sebagai mana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas (dalam sahih Muslim) bahwa Rasul telah mengajarkan Ibnu Abbas tentang tauhid diwaktu Ibnu Abbas masih anak-anak sehingga Ibnu Abbas menjadi ulama besar dizamannya. Hal yang paling fundamental yang harus ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya adalah tauhid, bukan bagaimana cara mencari uang yang banyak atau bagaimana mendapatkan kedudukan yang tinggi. Kalau tauhid anak-anak kita sudah benar, setelah itu baru kita ajarkan bagaimana cara mencari uang dan jabatan. Karena, uang yang akan didapatkan dengan cara yang halal, dan dibelanjakan kepada perkara yang halal juga. Begitu juga jabatan, mereka akan menjadi pemimpin yang adil, dan yang dipimpinnya pun akan rido dengan kepemimpinan mereka.

Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh dan menjadi pensiunan pahala bagi mereka setelah meninggal nanti, bukan menjadi anak-anak yang salah, malah memberatkan mereka menuju surga Allah swt. Oleh karena itu, wahai, orang tua yang budiman! Mulai sekarang mari kita tarbiyah anak-anak kita dengan tauhid. Tidak salah jika kita menanyakan kepada anak-anak kita “Wahai, anakku! Apa yang kamu sembah setelah aku meninggal nanti?” sehingga mereka paham tujuan mereka hidup di dunia adalah untuk mengabdi kepada Allah swt, dan generasi Muslim kedepannya akan tumbuh menjadi generasi-generasi yang cerdas spiritual dan intelektual.

“Manajemen Stress Islami Dengan Beriman Kepada Takdir Allah Swt”



Oleh : Syahri Ramadhan, S.Psi


“Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” {QS. Al-Ahzab [33] : 17}.




Tingkat kompleksitas kehidupan manusia makin hari semakin rumit mulai dari masalah ekonimi, pendidikan, social, dan sebagainya. Hiruk pikuk kehidupan mengusik ketenangan manusia, mulai dari tuntutan ekonomi, pendidikan, dan kehidupan social yang kacau balau. Manusia seakan diperbudak oleh kehidupan dunia. Bagaimanan tidak, seharusnya waktu malam yang dijadikan untuk beristirahat dari fananya kehidupan di siang hari, malah dijadikan sebagai waktu lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai siangnya. Seharusnya waktu malam dijadikan untuk bersenda gurau dengan keluarga, malah tersibukkan dengan kebutuhan pekerjaan yang tidak habis-habisnya. Allah Swt berfirman dalam kalamnya yang mulia :

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” {QS. Al-Furqan [25] : 47}.

Semakin sibuk manusia dengan dunia maka semakin jauh pula mereka dari kebahagian dan ketenangan. Besarnya usaha manusia untuk mencapai kemegahan kehidupan dunia tidak menjadi jaminan mereka bisa hidup dengan kebahagian, karena secara material kita bisa menjamin bahwa mereka itu bahagia. Tapi ukuran kebahagian itu bukanlah material atau jasmaniah (fisik), melainkan bersifat rohaniah (psikis).

Sudut pandang duniawiah, yaitu menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan hidup dan sebagai standar kebahagian, lebih jelasnya Islam menyebutnya dengan“hubbudduniyah” atau cinta dunia. Akan membuat manusia dipermainkan oleh kehidupan dunia yang fana ini. Tidak jarang kita melihat orang khawatir, cemas, merasa tertekan, terancam, dan takut dikarenakan perusahaannya bangkrut, karirnya anjlok, di PHK, gajinya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, diputus pacar yang ia cintai, dicerai suami atau isteri dan lain sebagainya.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur bagaimana seharusnya manusia hidup di dunia dan hidup untuk akhiratnya. Islam tidak menuntut manusia untuk beribadah secara terus menerus, tapi Islam mengajarkan bagaimana usaha manusia untuk kehidupan dunianya bisa menjadi amal shaleh di sisi Allah Swt.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” {QS. Al-Qashash [28] : 77}.

Allah Swt. telah menentukan nasib setiap makhluknya yang telah dituliskan di“lauhulmahfuzh” sebelum makhluk itu diciptakan. Sehingga apapun yang terjadi pada segala sesutau yang berhubungan dengan alam semesta maka sunnguh telah Allah tetapkan bahwa itu akan terjadi, sungguh Allah Maha Berkehendak sesukanya.

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” {QS. Al-An’ām [6] : 59}.

Mengimani apa-apa yang telah ditetapkan Allah adalah wajib bagi orang Islam karena itu merupakan salah satu dari rukun Iman, yang disebut sengan Iman kepada takdir baik maupun takdir buruk.

“Iman adalah bahwasanya engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Nya, hari akhir (kiamat), dan engkau percaya kepada qadar yang baik maupuin buruk.” {HR. Muslim, hadis ke 2 dari kitab Arba’in An-Nawawiyah}.

Dibalik kewajiban ini tentu Allah Swt menyediakan hikmah yang banyak bagi manusia, karena mustahil bagi Allah menciptakan sesuatu tanpa ada himahnya.

Seorang Muslim diajarkan untuk berserah diri kepada Allah (bertawakkal), dimana segala daya dan upaya (ihktiar) yang dilakukan merupakan sarana untuk mencapai hasil yang maksimal. Namun, setelah berikhtiar manusia diharuskan untuk bertawakkal karena yang berhak menentukan hasil ikhtiar tersebut hanyalah Allah Swt. Apabila hasil yang didapatkan baik maka mereka tidak kufur, tapi jika hasil yang didapatkan kurang baik maka mereka tetap besyukur. Inilah hakikat dari beriman kepada takdir Allah. Dibalik hasil yang kita peroleh kita bisa mengambil hikmah (Ibrah), misalnya jika hasil yang kita dapatkan kurang baik maka pelajaran yang kita peroleh adalah mungkin usaha kita kurang maksimal sehingga selanjutnya kita bisa memaksimalkan usaha kita. Di lain kasus, kita telah berusaha semaksimal mungkin tapi hasilnya tetap kurang baik juga, maka pelajaran yang kita ambil adalah Allah menguji kita, artinya Allah sayang kepada kita sehingga Allah akan menaikkan derajat kita dengan ujian itu.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?.” {QS. Al-Ankabût [29] : 2}.

Dengan adanya ujian dari Allah tersebut maka akan diketahui siapakah orang-orang yang beriman, siapakah orang orang yang munafik, dan siapakah orang-orang yang paling baik amalannya?

Dari Umar bin Khatab ra. Nabi Saw bersabda : “Sekiranya kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan membeikan kepadamu rizki sebagaimana burung yang juga diberi rizki; ketika fajar menyingsing ia pergi dalam keadaan lapar dan menjelang senja mereka pulang dalam keadaan kenyang.” {HR. Tirmidzi}.

Tawakkal bagi seorang Mukmin bukan bermakna pasif. Pasrah, narimo ing gandum, sama sekali bukan, tetapi merupakan sebuah aktititas untuk menggapai rizki Allah yang halal dan thayyiban secara sungguh-sungguh dibarengi do’a dan menyerahkan segala hasil usaha hanya kepada Allah. Sehingga manakala dia sukses tidak seta-mata menganggap itu semua hasil jerih payah, kecerdasan, dan kepiawaiannya kemudian‘ujub dan sombong. Juga tatkala dia gagal total lantas tidak minder, putus asa, stress, sakit hati, atau kafir, sama sekali bukan.

Orang yang senantiasa beriman kepada takdir Allah, seraya berusaha, berdo’a, dan bertawakkal akan menjadikan segala sesuatu yang menimpa dirinya, baik itu berupa kebaikan, rizki yang berlimpah, jabatan yang tinggi, isteri yang cantik, maupun berupa keburukan dan kegagalan. Mereka akan menyikapinya dengan habatush shadr(kelapangan dada) yang sempurna.

Sesungguhnya Rasul dan para sahabat beliau adalah tauladan yang patut kita ikuti dalam hal mengimani takdir Allah Swt. kita bisa menyimak kisah-kisah perjuangan Rasul dan para sahabatnya dalam mengarungi kehidupan dunia fana ini. Walaupun mereka hidup dengan pas-pasan, kehilangan harta benda, sanak keluarga, bahkan nyawa jadi taruhannya ketika mereka diperintahkan Allah untuk berhijrah. Mereka tetap bisa menjaga jiwa (ruhaniah) mereka dari stress. Dimana secara logika dengan melihat manusia jaman sekarang mustahil mereka bisa bertahan dari kekejaman, ancaman, siksaan baik secara lahir maupun batin yang gencar dari orang-orang kafir. Maka tentu ada suatu rahasia dibalik kekuatan jiwa tersebut, yaitu iman kepada Allah Swt dan takdir-Nya.

Wallahu 'alam.

Dinamika Perkembangan Rasa Agama "The Dinamic of Religious Conscience"



Oleh : Syahri Ramadhan, S.Psi


Pendahuluan

Agama merupakan salah satu factor eksternal yang mempengaruhi kondisi psikologis manusia. Manusia memiliki kecendrungan untuk mengakui bahwa ada kekuatan yang Maha Dahsyat di luar dirinya yang dibahasakan dengan nama spiritual. Hardjana (2005, 24-25) mengatakan bahwa sifat spiritual paling tampak pada sifat transendennya. Transenden berarti mengatasi atau melampaui, hal baru yang belum ada dalam tahap hidup sebelumnya, hal yang demikian baru atau tinggi sehingga ada diluar segala hal yang pernah dijumpai dalam hidup sampai saat ini. Dengan sifat transendennya manusia jadi terbuka. Terbuka berarti bahwa dalam diri manusia tersedia ruang, terdapat dorongan, dan ada kemampuan untuk diisi dan dipenuhi oleh sesuatu. Berkat keterbukaannya, manusia memiliki kemungkinan, dorongan, dan kemampuan untuk mengerti, menerima, dan mencapai hal yang melampaui diri dan dunianya. Kemudian Hardjana (1995, 14-15) manusia beragama didorong oleh beberapa faktor utama, yaitu mendapatkan keamanan, mencari perlindungan dalam hidup, menemukan penjelasan atas dunia serta segala yang termaktub di dalamnya, memperoleh pembenaran atas praktik-praktik hidup yang ada, dan meneguhkan tata nilai yang sudah mengakar dalam masyarakat, serta memuaskan kerinduan hidup.

Unsur penciptaan manusia itu sendiri terdiri dari ruh dan jasad. Nashori (2005, 23-24) mengatakan bahwa ruh yang ada di dalam diri manusia merupakan ruh ilahi (the spirit of god). Hanya manusialah makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh ilahi. Dengan adanya ruh ilahi ini manusia memiliki potensi-potensi ketuhanan dalam dirinya. Maksudnya, dalam diri manusia melekat sifat-sifat dasar atau potensi-potensi dasar sebagaimana yang dimiliki Allah. Kecendrungan manusia untuk bertuhan dan memiliki potensi spiritual jelas tergambarkan di dalam firman Allah Surat Al-A’araf [7] ; 172 :

“Dan ingatlah ketika tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbinya dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (QS. Al-A’araf [7] : 172).

Kondisi spiritual seseorang akan terlihat dalam kehidupan agamanya (religiousitas), menurut Hardjana religiousitas yaitu perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali manusia dengan Allah, karena manusia telah mengenal serta mengalami kembali Allah, dan percaya kepada-Nya (Faoziyah, 2010, 24). Kemudian menurut Jalaluddin (2003, 69) mengatakan bahwa dorongan keberagamaan merupakan faktor bawaan manusia. Apakah nantinya setelah dewasa seseorang akan menjadi sosok penganut agama yang taat, sepenuhnya tergantung dari pembinaan nilai-nilai agama oleh kedua orang tuanya. Rasulallah saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulallah saw bersabda: “Tiada seorang anak pun kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. (HR. Muslim).

Perkembanngan religious seseorang bisa dipengaruhi oleh faktor internal (dirinya sendiri) dan faktor eksternal (lingkungan dan pengalamannya). Sehingga proses internalisasi nilai-nilai agama ini akan membentuk dinamika keberagamaan seseorang. Maka tidak jarang orang yang biasanya tidak religious menjadi religious, atau sebaliknya orang yang biasanya religious tiba-tiba menjadi tidak religious. Bahkan sebagian diantara mereka mengalami religious doubt (keraguan dalam beragama) dan religious conversion (perubahan keyakinan). Sebagaimanan yang diungkapkan Anshari (1991, 39-40) bahwa munculnya religiousitas karena terdapat sumber penyebab yaitu dari dalam diri manusia, apakah itu bersumber dari perenungan (philosofis) atau dari keimanan/keyakinan (theologis) atau juga dari mekanisme psikis (psychologis). Sumber utama dari mekanisme psikis ada kemungkinan mendapat pengaruh-pengaruh dari luar atau lingkungan.

Anshari menambahkan bahwa perubahan kadang-kadang sering terjadi dalam religiousitas yang disebabkan oleh adanya perubahan kondisi psikis seseorang (religious consciousness) dan sebaliknya ada kemungkinan kondisi psikis akan berubah sedemikian rupa karena pengalaman religious (religious experience). Religiousitas ternyata bergerak secara dinamis sesuai dengan dinamika psikis dan perubahan yang terjadi dalam lingkungan, bahkan keyakinan pun juga akan berubah secara dinamis pula. Dari sinilah kita akan melihat adanya satu mekanisme yang saling bertaut satu dengan yang lainnya. Secara teoligis orang yang memiliki keimanan yang mantap terhadap Tuhan, maka perubahan-perubahan dan dinamika psikis yang terjadi tidak akan keluar dari garis-garis baku yang ada dalam lingkup wawasan iman yang dimiliki, sehingga perubahan-perubahan dalam religiousitasnya senantiasa mengarah pada peningkatan bobot dan kualitas dan kalau toh terjadi perubahan iman akan mengarah kepada iman yang semakin kuat dan mantap. Tetapi, bagi orang yang belum memiliki iman yang mantap maka perubahan tersebut mengarah kepada dua kemungkinan, yaitu semakin berbobot dan berkualitas religiousitasnya dan semakin kuat dan mantap. Namun, bukan suatu hal yang mustahil apabila terjadi sebaliknya bahkan kemungkinan terjadi konversi. Kemungkinan terakhir inilah yang banyak terjadi pada mualaf.

Menurut Clark (dalam Darajat, 2005, 160) konversi agama (religious conversion) adalah suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran agama dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukan suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.

Para psikolog agama berpendapat bahwa terjadinya konversi agama merupakan suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang memberi pengertian adanya perubahan arah yang sangat berarti dalam sikap terhadap ajaran agama ataupun dalam tingkah laku agama. Konversi agama menunjukan adanya suatu perubahan emosi secara mendadak (tiba-tiba/eksplosif), bisa bersifat sangat mendalam atau dangkal saja. Dan perubahan emosi tersebut bisa terjadi secara bertahap (Anshari, 1991, 13).

Fenomena mualaf merupakan salah satu bukti adanya dinamika religious pada seseorang. Dimana proses internalisasi nilai-nilai agama terus berkembang dari fase ke fase secara dinamis. Mualaf (orang yang masuk Islam) memiliki alasan masing-masing untuk memilih memeluk Islam. Sehingga realita menunjukan adanya perbedaan tingkat religiousitas pada mualaf. Misalnya di antara mereka ada yang berusaha memahami dan mengamalkan syari’at Islam secara sungguh-sungguh. Namun, ada juga yang hanya sekedar masuk Islam, tapi mereka tidak memahami dan mengamalkan syari’at Islam dengan sungguh-sungguh.



“The Dinamic of Religious Conscience”

1. Pengertian

Religiusitas berasal dari bahasa latin religio yang berarti agama, kesalehan, jiwa keagamaan. Henkel Nopel (dalam Ihsanudin 2007, 6) mengartikan religiusitas sebagai keberagamaan, tingkah laku keagamaan, karena religiusitas berkaitan erat dengan segala hal tentang agama.

Sedangkan menurut Susilangsih (dalam makalah Psikologi Agama, 2010)Religiousitas adalah Kristal-kristal nilai agama dalam diri manusia yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai-nilai agama semenjak usia dini. Religiusitas akan terbentuk menjadi kristal nilai pada akhir usia anak dan berfungsi pada awal remaja. Kristal nilai yang terbentuknya akan berfungsi menjadi pengarah sikap dan perilaku dalam kehidupannya.

Menurut Clark (dalam Abdullah, 2006, 89-90) religious conscience adalah the inner experience of the individual when he senses a Beyond, especieally as evidenced by the effect of this experiencec on his behaviour when he actively attemps to harmonize his life with the Beyond (religious concience adalah pengalaman batin dari seseorang ketika dia merasakan adanya Tuhan, khususnya bila efek dari pengalaman itu terbukti dalam bentuk perilaku, yaitu ketika dia secara aktif berusaha menyesuaikan hidupnya dengan Tuhan).

2. Dimensi - dimensi religiusitas

Konsep tentang adanya dimensi Rasa keagamaan memberi pengertian bahwa kehidupan keagamaan memiliki beberapa sisi. Menurut Glock (dalam Abdullah 2006, 90-93) menyebutkan ada lima (5) macam dimensi komitmen keberagamaan, yaituritualistic, idiological, experiental, intelectual, dan qoncequetial. Kemudian Verbit (dalam Abdullah 2006, 91) setuju dengan konsep lima dimensi itu, namun dia menambahkan satu dimensi lagi, yaitu dimensi community. Secara rinci dimensi-dimensi rasa agama dapat diutarakan sebagai berikut:

a.) Religious believe (the ideological/doctrine commitment)

Dimensi rasa percaya yang mengukur seberapa jauh seseorang mempercayai doktrin-doktrin agamanya, misalnya tentang keberadaan dan sifat-sifat Tuhan, ajaran-ajaranNya, takdirNya. Kepercayaan kepada Tuhan dan sifat-sifatNya merupakan inti pokok dari adanya rasa agama. Kemudian rasa percaya kapada ajaran-ajaran Tuhannya dapat digunakan untuk mengukur kemendalaman dari rasa percaya itu. Misalnya percaya tentang kepada ajaran tentang ajaran kewjiban peribadatan, moral, keadaan kehidupan setelah mati.

b.) Religious practice (the ritualistic commitment)

Dimensi peribadatan yang mengukur seberapa jauh seseorang melaksanan kewajiban peribadatan agamanya, misalnya tentang salat, puasa, dan ibadah wajib lainnya dalam Islam. Khusus untuk pengukuran dimensi ini difokuskan pada pelaksanaan lima (5) rukun Islam, sementara pelaksanaan ibadah sunnah dapat dimasukkan untuk pengukuran dimensi lain, yaitu religious feeling. Sering kali pengukuran peribadatan dapat terjebak dalam pengukuran rutinitas ibadah.

c.) Religious feeling (the experiental/emotion commitment)

Dimensi perasaan mengukur seberapa dalam (intensif) rasa kebertuhanan seseorang. Dimensi ini bisa disebut sebagai esensi keberagamaan seseorang, esensi dimensi transendental, karena dimensi ini mengukur kedekatannya dengan Tuhannya. Pengukuran pada dimensi ini dapat menguatkan pengukuran pada dimensi ibadah. Pengukuran dimensi perasaan dapat dilaksanakan dengan mengamati seberapa sering seseorang merasa doanya diterima, merasa selalu dilihat Tuhan, merasa selalu dekat dengan Tuhan. Bagi orang Islam indikator dalam perilaku dapat diamati pada seberapa sering (keaktifan) dalam menjalankan ibadah sunnah, kekhusukan dalam beribadah, kemendalaman doa, berbaik sangka kepada Allah dan ikhlas menerima segala takdir Allah, dan sebagainya. Dimensi ini akan sangat berasa dampaknya pada orang-orang yang mengalami konvensi agama.

d.) Religious knowledge (the intelektual commitment)

Dimensi pengetahuan atau intelektual mengukur intelektualitas keberagamaan seseorang. Dimensi ini mengukur tentang seberapa banyak pengetahuan keberagamaan seseorang, dan seberapa tinggi motivasi dalam mencari pengetahuan tentang agamanya. Dimensi ini juga mengukur sifat dari intelektualitas keagamaan seseorang, apakah bersifat tertutup (tekstual, doctrinel) ataukah terbuka (kontekstual). Dimensi ini juga dapat untuk mengkur sikap toleransi keagamaan seseorang, baik intern agama (terhadap berbagai pendapat golongan dalam agamanya) atau antar agama (terhadap ajaran lain).

e.) Religious effects (the concequqntial/ethics commitment)

Dimensi etika atau moral mengukur tentang pengaruh ajaran agama terhadap perilaku sehari-hari yang tidak terkait dengan perilaku ritual, yaitu perilaku yang mengekspresikan kesadaran moral seseorang, baik yang terkait dengan moral dalam hubungannya dengan orang lain. Bagi orang Islam pengukuran dimensi etika dapat diarahkan pada ketaatannya terhadap ajaran halal dan haram (makanan, umber pendapatan, hubungan laki-laki dan perempuan), serta hubungan dengan orang lain (baik sangka, agresif, menghargai, memuliakan).

f.) Community (social commitment)

Dimensi sosial mengukur seberapa jauh seorang pemeluk agama terlibat secara sosial pada komunitas agamanya. Dalam Islam dimensi ini dapat disebut sebagai pengukuran terhadap kesalehan sosial. Dimensi kesalehan sosial dapat digunakan untuk mengukur konteribusi seseorang bagi kegiatan-kegiatan sosial keagamaan, baik berwujud tenaga, pemikiran, maupun harta.

Keenam dimensi keberagamaan ini bisa menjadi dasar dalam mengetahui perkembangan dan rasa keagamaan yang dimiliki seseorang. Hal ini karena enam dimensi ini adalah bentuk ekspresi dari keagamaan seseorang berdasarkan pada aspek-aspek dalam keberagamaan.

3. Perkembangan religiusitas

Tahap-tahap perkembangan rasa agama menurut susilaningsih (makalah disampaikan pada pekuliahan Psikologi Agama, 2010) adalah:

Pertama, tahap pembentukan adalah tahap dimana masuk dan mengkristalnya nilai-nilai agama, berupa nilai-nilai dasar, dan ditunjukan dengan adanya tugas-tugas keagamaan, tahap ini berada pada usia anak.

Para ahli psikologi dari berbagai mazhab, seperti psikoanalisis, behavioris, dan humanis sepakat bahwa pada masa bayi dan masa kanak-kanak awal amatlah penting dan membawa pengaruh yang terbawa terus dalam struktur kepribadian. Sebab menurut Gleason (Crapps, 1994, 14) unsur-unsur keagamaan mendasar tertanam pada masa tahap-tahap awal pertumbuhan Psikososial dan keparalelan antara tugas psikososial dan konsep religious sangat penting. Crapps (1994, 14) mengatakan bahwa dalam pengalaman hubungan antar pribadi dengan keluarga, anak belajar pertama kali isi emosional iman religious. Pengalaman tentang konsep agama awal ini lebih berpengaruh ketimbang pendidikan agama yang sadar dikemudian hari.

Menurut Jalaluddin (2003, 70-73) ada beberapa sifat-sifat agama pada masa kanak-kanak, yaitu bersifat unreflektive (tidak mendalam),anthromorphis (konsep ketuhanan yang menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan), imitative (diperoleh melalui meniru), verbalis-ritualis (belajar mengucapkan kalimat-kalimat keagamaan dan kebiasaan), rasa heran (keheranan secara lahiriah saja). Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ramayulis (2007, 54-58).

Kedua, tahap pengembangan adalah tahap dimana mulai berfungsinya nilai-nilai dasar keagamaan kedalam konteks kehidupan dan pemaknaan nilai-nilai agama yang akan memberi rasa aman sebagai solusi kegoncangan jiwa, tahap ini berada pada usia remaja. Menurut Ramayulis (2007, 58) tahap perkembangan masa remaja menduduki tahap progresif yang mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pebertas, dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama bagi remaja mengikuti perkembangannya itu. Maksudnya penghayatan dan tindakan keagamaan yang terjadi pada remaja berkaitan dengan perkembangannya itu.

Menurut W. Starbuck (Jalaluddin, 2003, 74-77) perkembangan pada masa remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan jasmani dan rohaninya, perkembangan itu antara lain adalah:

a. Pertumbuhan Pikiran dan Mental

Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik lagi bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran-ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama mereka juga tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.

Pada masa remaja sifat kognitifnya berubah, dimana pada masa kanak-kanak mereka menerima nilai-nilai agama secara kongkrit, namun pada masa remaja mereka mulai mempertanyakan nilai-nilai kongkrit tersebut karena pola kognitif mereka berkembang ke arah nilai-nilai yang sifatnya abstrak. Hal ini sesuai dengan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget (dalam Rochmah, 2005, 57-58) bahwa ada empat fase perkembangan kognitif, yaitu:

1. Fase sensori motorik, yaitu aktivitas kognitif yang didasarkan pada pengalaman langsung panca indera. Aktivitas belum menggunakan bahsa, sedangkan pemahaman intelektual muncul di akhir fase ini.

2. Fase praoperasional, yaitu anak tidak lagi terikat pada lingkungan sensori, kesanggupan menyimpan informasi semakin besar. Anak suka meniru orang lain dan mampu menerima khayalan dan suka bercerita tentang hal-hal yang fantastis.

3. Fase operasi kongkrit, yaitu anak mulai berfikir logis, bentuk aktivitas dapat ditemukan dengan peraturan yang berlaku. Karena anak masih berfikir harfiah sesuai dengan tugas-tugas yang diberikan padanya.

4. Fase operasional formal, yaitu anak telah mampu mengembangkan pola-pola berfikir formal, logis, rasional, bahkan abstrak, mampu menangkap arti simbolis, kiasan, dan menyimpulkan suatu berita, dan sebagainya.

Menurut hasil penelitian Allport, Gillesphy, dan Young (Jalaluddin, 2003, 74-75) menunjukan bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservatif lebih banyak mempengaruhi remaja untuk tetap taat pada ajaran agamanya.

b. Perkembangan Perasaan

Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religious akan cenderung mendorong dirinya ke arah yang religious pula. Sebaliknya remaja yang kurang mendapatkan siraman ajaran agama akan cenderung dikuasai oleh nafsu seksualnya. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Dr. Kinsey (dalam Jalaluddin, 2003, 75 yang mengungkap bahwa 90% remaja di Amerika telah mengenal homoseks dan onani.

c. Perkembangan sosial

Corak keagamaan pada remaja juga ditandai dengan adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material.

d. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencapai proteksi. Tipe moral yang terlihat pada remaja juga mencakupi:

1. Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan peribadi.

2. Adaptive, mengakui situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.

3. Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama.

4. Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.

5. Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral masyrakat.

e. Sikap dan Minat

Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaannya boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya).

f. Ibadah

Bagi sebagian remaja ibadah merupakan hal sepele. Ini bisa dilihat dari ketaantan mereka dalam menjalankan ibadah sehari-hari.

Pada masa remaja dikenal sebagai usia rawan akan agama yang mereka terima. Remaja akan mengalami kehidupan batin yang terombang-ambing (strum and drang). Untuk mengatasi kemelut batin itu. Maka seyogyanya mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan. Para remaja memerlukan tokoh pelindung yang mampu diajak berdialog dan berbagi rasa (Jalaluddin, 2003, 81).

Dari hasil analisis penelitiannya W. Starbuck (Ramayulis, 2007, 61-63) menemukan penyebab timbulnya keraguan dan kebimbangan itu antara lain:

1. Kepribadian, yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin

a. Bagi seorang yang memiliki kepribadian introvert, maka kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan akan menyebabkan salah tafsir akan sifat-sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

b. Perbedaan jenis kelamin dan kematangan merupakan faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih cepat menunjukan keraguan daripada pria. Tetapi sebaliknya dalam kualitas dan kuantitas keraguan remaja putri lebih kecil jumlahnya. Disamping itu keraguan wanita lebih bersifat alami sedangkan pria bersifat intelek.

2. Kesalahan organisasi keagamaan dan pemuka agama

Pertentang-pertentangan yang terjadi didalam organisasi keagamaan dan tindak-tanduk pemuka agama yang jauh menyimpang dari nilai-nilai agama akan menimbulkan keraguan pada remaja.

3. Pernyataan kebutuhan manusia

Manusia memiliki sifat conservative (senang dengan yang sudah ada) dan dorongan curiosity (dorongan ingin tahu). Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang harus ada pada diri manusia, karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan manusia normal. Ia terdorong untuk mempelajari ajaran agama dan kalau ada perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan timbul kerguan.

4. Kebiasaan

Seseorang yang terbiasa dengan tradisi keagamaan yang dianutnya akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterima atau dilihatnya. Misalnya seorang remaja protestan akan ragu dengan ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam. Namun, keraguan ini ada yang menimbulkan rasa penasaran dan kemudian mereka berusaha mencari kebenaran dengan memperbandingkan kedua ajaran tersebut. Maka tidak tertutup kemungkinan mereka pindah agama.

5. Pendidikan

Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang sesuai dengan tingkat pendidikan yang ia miliki akan membawa pengaruh sikap terhadap ajaran agamanya. Terutama yang mengandung ajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi adanya kemampuan mereka menafsirkan ajaran agamanya.

6. Percampuran agama dan mistik

Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangn masyarakat kadang secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditopang oleh praktek kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan suatu dilema yang kabur bagi para remaja.

Keragu-raguan yang demikian itu akan menjurus ke arah konflik dalam diri para remaja sehingga mereka dihadapkan kepada masalah pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk dan antara yang benar dan yang salah. Beberapa bentuk konflik yang terjadi antaranya:

a. Konflik yang terjadi sebagai antara percaya dan ragu.

b. Konflik yang terjadi antara pemilihan satu di antara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan.

c. Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau jauh dari agama.

d. Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan petunjuk ilahi.

Ketiga, tahap dinamik adalah tahap pematangan dan mulai berpengaruhnya nilai-nilai agama dalam conscience pada seluruh aspek kehidupan (agama sebagai “Way of Loife”), tahap ini berada pada usia dewasa. Menurut Sujanto (dalam Anshari, 1991, 89-90, 94) saat mengakhiri masa adolesen menuju masa dewasa pada umumnya orang akan berusaha menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya, menggariskan jalan hidupnya, bertanggungjawab, dan menghimpun norma-norma sendiri. Berdasarkan gambaran psikis tersebut, maka akan tampak kestabilan seseorang di dalam menentukan pandangan hidup yang harus di anutnya atau agama yang harus dianutnya, menandakan bahwa agama yang dianutnya itu sudah berdasarkan kesadaran dan keyakinan yang dianggap benar dan diperlukan dalam hidupnya.

Kestabilan dalam pandangan hidup keagamaan dan kelakuan religious seseorang bukan berarti bersifat statis, tetapi kestabilan yang dinamis, dimana suatu ketika akan terjadi perubahan-perubahan seiring dengan pengetahuan dan situasi-situasi yang mereka hadapi. Maka ada kemungkinan terjadinya religious konversion (pindah agama) karena seseorang mengalami kebimbangan, keraguan atau konflik. Masalah pendidikan yang melahirkan pemikiran baru atau anggapan bahwa ajaran agama yang tidak lagi relevan dengan tuntutan masa dan kehidupan.

Zakiah Darajat (dalam Anshari, 1991, 97) mengemukakan faktor-faktor terjadinya konversi adalah karena pertentangan batin (konflik jiwa) dan ketegangan perasaan, pengaruh hubungan dengan tradisi agama, ajakan dan sugesti, faktor-faktor emosi, dan kemauan.

Keempat, tahap pemeliharaan adalah tahap dimana agama menguasai tujuan dan aktifitas kehidupan (wordly ascetisme). Berada pada usia lanjut, menurut Jalaluddin (2003, 105-106) ciri keberagamaan lanjut usia adalah:

1. Kehidupan beragama pada lanjut usia sudah mencapai kemantapan.

2. Meningkatnya kecendrungan untuk menerima pendapat keagamaan.

3. Mulai muncul pengakuan relitas tentang kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.

4. Timbulnya rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.

5. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia, serta sifat-sifat luhur.

6. Perasaan takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan akhirat.

Berdasarkan uraian perkembangan religiusitas di atas, maka James W. Flower (dalam Cremers, 1994, 96, 104, 117, 134, 160, 185, 218) membagi tahap perkembangan iman yang biasanya dilewati orang dalam pertumbuhannya:

1. Tahap kepercayaan awal dan elementer (primal faith) usia anak 0-2 atau 4 tahun. Ditandai dengan cita rasa yang bersifat praverbal terhadap kondisi eksistensi, yaitu rasa percaya dan setia yang elementer pada semua orang yang mengasuh dan lingkungan.

2. Tahap iman intuitif/proyektif (kira-kira umur 4-8 tahun). Dunia diberi arti lewat orang tua dan orang-orang dewasa lain yang berpengaruh, dengan memproyeksikan secara intuitif dengan meniru orang-orang dewasa.

3. Tahap iman mistis/literal (kira-kira umur 8-12 tahun). Arti dan makna hidup, dunia, manusia diambil dari orang-orang atau kelompok yang diikuti. Iman yang diperoleh dari jemaat berupa kisah-kisah dan ajaran-ajaran suci yang membuat lingkungan hidup, dunia, manusia menjadi bermakna. Kisah dan ajaran itu dimengerti secara harfiah, literal.

4. Tahap iman sintetis/konvensional (kira-kira umur 12-dewasa). Iman merupakan iman yang menyesuaikan dan mengambil arahnya dari kebiasaan yang ada, yang dipilih secara sadar. Iman itu membuat seimbang berbagai tuntutan yang datang dari kebiasaan-kebiasaan itu menjadi sintesis arti yang dapat dijadikan pegangan.

5. Tahap iman individual/reflektif-sadar (sesudah umur 17 atau 18 tahun). Iman itu menjadi pola iman yang dipilih secara pribadi dan secara sadar dipisahkan dari harapan orang lain. Iman itu bersifat otonom.

6. Tahap iman konjungtif (biasanya tengah umur atau sesudahnya). Iman itu menerima pandangan-pandangan yang berlawanan dan tak berhubungan satu sama lain dan membuatnya menjadi pola yang kokoh. Sistem imannya sendiri dipandang ada dalam keterkaitan dengan iman umat manusia.

7. Tahap iman yang universal (usia lanjut). Iman itu adalah iman orang kudus dimana Yang Akhir, bukan dirinya, dijadikan titik tujuan.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan religious conscience

Faktor-faktor perkembangan rasa agama menurut Susilaningsih (makalah Psikologi agama, 2010), yaitu:

a) Pertama, faktor internal meliputi kodisi awal rasa agama (potensi), perkembangan kognisi, kondisi afeksi (emosi, motif, minat, dan sikap).

b) Kedua, faktor eksternal meliputi pengalaman dan pengetahuan, pendidikan, dan lingkungan.

c) Ketiga, faktor proses, yaitu terjadinya berbagai dinamika perkembangan pada masing-masing fase perkembangan anak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.

Berdasarkan uraian teori yang penulis kemukakan diatas maka dinamicreligious conscience yang dimaksud di dalam makalah ini adalah sekumpulan proses atau tahap-tahap internalisasi nilai-nilai agama seiring dengan perkembangan usia yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (diri sendiri) dan faktor eksternal melalui pendidikan, eksperien, pengaruh lingkungan, maupun agama itu sendiri dan faktor-faktor tersebut memungkinkan terjadinya perubahan agama yang bersifat konvesi ke agama yang lain (pindah agama).



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A, dkk. (2006). Metodologi Penelitian Agama: Pendekatan Multidispliner. Yogyakarta: Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga.

Anshari, H.M. (1991). Dasar-Dasar Ilmu Jiwa. Surabaya: Usaha Nasional.

Crapps, R.W. (1994). Perkembangan Kepribadian dan Keagamaan. Yogyakarta: Kanisus.

Cremers, A. (1995). Tahap-Tahap Perkembangan Kepercayaan: Menurut James W. Fowler, Sebuah Gagasan Baru Dalam Psikologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.

Daradjat, Z. (2005). Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Faoziyah, Y. (2010). Hubungan Antara Tingkat Religiousitas Dengan Kecenderungan Perilaku Mengakses Situs Porno Pada Pelajar sekolah Menengah Atas (SMA) “X” Di Kota Yogyakarta. Skripsi tidak diterbitkan, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Hardjanan, A.M. (1995). Penghayatan Agama: Yang Otentik dan Tidak Otentik. Yogyakarta: Kanisius.

Hardjana, A.M. (2005). Religiositas, Agama dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius.

Ihsanudin, M. (2007). Dinamika Religusitas Pedagang Pasar Buah dan Sayur “Gemah Ripah” Gamping Sleman. Skripsi tidak diterbitkan, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Jalaluddin, H. (2003). Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Rochmah, E.Y. (2005). Psikologi Perkembangan. Yogyakarta: Teras

Nashori, F. (2005). Potensi-Potensi Manusia: Seri Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Susilaningsih. (2010). Makalah Psikologi Agama: Perkembangan Religious Conscience. Makalah tidak diterbitkan, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Translate