Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 05 Mei 2012

Terapi Marah Dalam Tinjauan Psikoterapi Islam


Oleh :
Syahri Ramadhan, S.Psi

Latar Belakang
Allah SWT. menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna baik secara fisik maupun psikis. Manusia dianugerahi hati nurani (qalb), akal pikiran (al-‘aql), jiwa (an-nafs), dan ruh (ar-ruh) sebagai unsur psikis dan jasad (al-jism) sebagai unsur fisik. Antara unsur fisik dan unsur psikis tidak bisa dipisahkan, karena fisik yang tidak memiliki unsur-unsur psikis disebut mayat atau jenazah, sedangkan psikis yang tidak memiliki fisik disebut arwah.
Manusia bisa beraktualisasi dengan dunia nyata merupakan hasil bersinerginya unsur sistem fisik dan psikis. Terganggunya salah satu unsur ini akan menghambat manusia mengaktulisasikan potensinya. Jadi, unsur fisik maupun psikis saling mempengaruhi bekerjanya totalitas fungsi illahiyah dan fungsi kemanusian (khalifiyah) yang ada dalam diri manusia. Manusia akan bertindak semena-mena, tanpa mempertimbangkan perkara baik dan buruk, halal dan haram, bermanfaat dan mudharat merupakan akibat tidak bersinerginya unsur psikis dengan unsur fisiknya.
Emosi merupakan salah satu hasil kerja dari sinergi unsur fisik dan psikis. Menurut Walgito (2004) emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengatahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
Emosi mempunyai bentuk yang berbeda-beda, misalnya senang, sedih, marah, takut atau gejala-gejala lain yang merupakan respon dari bekerjanya indera manusia. Salah satu emosi yang sering muncul dalam diri kita adalah emosi marah (ghadab). Marah merupakan salah satu satu fitrah manusia yang muncul ketika kebutuhan (needs) dan motif (motive) mereka terhalangi atau terhambat untuk dipenuhi. Menurut Al-Ghazali (dalam Mujib, 2007) penyakit marah (ghadab) disebabkan oleh dominasi unsur api atau panas (al-harȃrah), yang mana unsur tersebut melumpuhkan peran unsur kelembaban atau basah (al-ruthȗbah) dalam diri manusia. Hal ini telah disabdakan oleh Rasulallah SAW. bahwa “Sesungguhnya marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak Adam. Ingatlah bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan dan sejelek-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan melambatkan ridha”. (HR. Ahmad dari Abu Sa’id al-Khudriy).
Marah secara umum mengakibatkan terganggunya aktualisasi diri di dalam kehidupan kita atau marah merupakan penyakit jiwa yang ada di dalam diri manusia. Walaupun menurut sebagian pendapat ulama marah bisa menjaga kelangsungan hidup manusia dan menumbuhkan kekuatan untuk membela agama Allah yaitu dalam jihadfȋsabȋlillah.
Jika marah merupakan suatu penyakit (patologi) di dalam diri manusia, maka barang tentu ada obatnya. Rasulallah SAW. Bersabda “Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Allah juga menurunkan obatnya”. (HR. Bukhari). Pada tulisan sederhana ini kita akan mengakaji tentang bagaimana kita mengontrol kemarahan sehingga hubungan kita dengan Allah (hablumminallȃh) dan hubungan kita dengan manusia (hablumminannȃs) tidak terganggu.
Rasulallah SAW. telah mengajarkan kita untuk mengatasi rasa amarah yang ada di dalam diri kita. Amarah yang disertai dengan bisikan dan tipu daya setan akan mengakibatkan manusia tersesat dan terjerumus kepada murka Allah SWT. Maka Allah melalui syari’atNya yang agung ini melindungi kita dari segala kelicikan dan keburukan-keburukan setan. Allah SWT. berfirman “Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf [7] : 200).
Rasulallah SAW. bersabda “Jika salah seorang diantara kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri maka hendaklah dia duduk (hal itu cukup baginya), jika marahnya reda. Namun, jika marahnya tidak reda juga maka hendaklah dia berbaring”. (HR. Abu Daud dan Ibnu Hiban). Kemudian dalam hadis yang lain Rasul bersabda “Sesungguhnya kemarahan berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api, dan api itu dipadamkan dengan air, karena itu jika salah seorang diantara kalian marah, maka hendaklah ia mengambil air wudhu”. (HR. Imam Ahmad). Selanjutnya di dari Imam Ahmad, dia meriwayatkan “Jika salah seorang diantara kalian marah maka hendaklah ia diam.” (HR. Imam Ahmad).
Berdasarkan dalil-dalil nash tersebut maka dapat kita simpulkan bahwa posisi atau keadaan tubuh bisa mempengaruhi emosi manusia, begitu juga dengan air (wudhu) yang memberikan efek positif untuk melawan rasa marah. Hal ini tentu berkaitan dengan keimanan seseorang terhadap Allah SWT. Jika dilandasi iman yang kuat tentu orang akan mudah percaya dengan obat yang ditawarkan Rasul ini. Namun, jika iman kita lemah atau bahkan tidak beriman maka barang tentu orang akan mempertanyakan perkataan Rasul ini. Disinilah permasalahannya, Islam merupakan agama yang rahmatallil’ȃlamȋn “Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyȃ’ {21} : 107). Maka disini kita berusaha melakukan objektifikasi keilmuan, yaitu penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori-kategori objektif (Kuntowijoyo,2007). Dimana konsep-konsep yang bersifat mistis di dalam dalil-dalil naqli akan di terjemahkan sesuai dengan konteks saat ini tanpa mengubah hakikat dari syari’at Allah Yang Maha Sempurna. Sehingga rahmat yang dibawa oleh Islam bisa dirasakan oleh semua manusia, bukan cuma orang Islam, tapi seluruh umat manusia. Dengan begitu seluruh kebenaran-kebenaran yang ada dalam Islam akan diakui oleh seluruh umat manusia karena kebenaran Islam yang selama ini bersifat mistis (tekstual) telah diungkap secara kontekstual.
Psikoterapi Marah
A. Definisi psikoterapi marah
Di dalam Kamus Inggris-Indonesia (Echols & Shadily, 1984) mengartikan terapi secara bahasa adalah “Pengobatan physical” atau “Pengobatan jasmani”. Sedangkan menurut Chaplin (2005) therapy adalah satu perlakuan dan pengobatan yang ditujukan kepada penyembuhan satu kondisi patologis. Di dalam bahasa Arab kata therapy sepadan dengan Al-Istisyfȃ’ yang berasal dari kata Syifȃ’ – Yasyfȋ - Syafȋ yang artinya menyembuhkan (Munawir dalam Dzaky, 2008).
Psikoterapi (Psychotherapy) memiliki banyak pengertian karena penggunaan kata ini terdapat dalam berbagai bidang keilmuan, seperti bimbingan dan konseling (guidance dan counseling), psikiatri, case work, pendidikan, dan Ilmu Agama (Wahyudi dalam Dzaky, 2008). Sedangkan Psikoterapi Islam menurut Dzaky (2008) merupakan proses pengobatan dan penyembuhan suatu penyakit, apakah mental, spiritual, moral, maupun fisik dengan melalui bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunah Nabi SAW. atau secara emipirik adalah melalui bimbingan dan pengajaran Allah SWT., Malaikat-malaikatNya, Nabi dan RasulNya atau Ahli waris para NabiNya.
Psikoterapi marah adalah suatu upaya atau proses pengobatan dan penyembuhan rasa amarah yang ada di dalam diri manusia dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunah Rasul SAW. Marah merupakan salah satu bentuk emosi yang mendorong manusia untuk melakukukan sesuatu yang biasanya akan berakibat buruk bagi dirinya maupun orang lain atau lingkungannya baik secara moril maupun materil.
Menurut Asy-Syahawi (2005) ada dua cara untuk mengatasi marah yang tengah bergejolak, yaitu dengan ilmu pengetahuan dan dengan amal perbuatan. Namun, pada bahasan ini kita akan mencoba menguraikan dan mendalami cara mengatasi marah dengan cara amalan (perbuatan) yang meliputi sebagai berikut:
Pertama, mengucapkan isti’ȃdzah ketika amarah datang, yaitu dengan mengucapkan “A’ȗdzubillȃhi minasysyaithanir rajȋm”, artinya aku berlindung dengan Allah dari Godaan Syetan yang terkutuk. Allah SWT. berfirman “Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raf {7} : 200).
Kedua, berdiam diri. Dari Ibnu Abbas ra. menceritakan bahwa Rasulallah SAW. pernah bersabda “Jika salah seorang diantara kalian marah maka hendaklah ia diam.” (HR. Imam Ahmad). Berdiam diri merupakan obat yang sangat mujarab untuk meredam rasa marah karena biasanya orang-orang yang sedang marah suka mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak baik. Ini disebabkan tidak terkontrolnya lisan karena dorongan nafsu setan yang kuat dari dalam dirinya. Maruq Al-Ajali pernah mengugkapkan suatu ungkapan yang indah dan bijak serta dalam maknanya “Aku tidak pernah kenyang dengan kemarahan, dan tidak pernah berbicara saat marah dengan sesuatu yang kelak akan menjadi penyesalan setelah aku memaafkan”.
Ketiga, merubah posisi. Dalam hal ini, jika kita sedang marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah kita duduk, kalau tidak reda juga maka hendaklah kita berbaring. Rasulallah SAW. pernah bersabda “Jika salah seorang diantara kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri maka hendaklah dia duduk (hal itu cukup baginya), jika marahnya reda. Namun, jika marahnya tidak reda juga maka hendaklah dia berbaring.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Hibban). Kemudian Rasulallah SAW. juga memerintahkan kepada kita untuk untuk menempelkan diri ke tanah, tujuannya agar kita semakin menyadari hakikat diri kita yang hina, sehingga bisa menghilangkan kesombongan dan keangkuhan yang ada di dalam diri kita. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudry ra. yang berbunyi “Sesungguhnya kemarahan itu adalah percikan api yang menyala di dalam hati manusia, tidakkah kalian memperhatikan (orang-orang yang marah) kedua matanya memerah dan raut wajahnya mengerut? Jika salah seorang diantara kalian merasakan hal itu maka hendaklah ia menempelkan diri ke tanah.” (HR. Imam Ahmad).
Perilaku menempelkan diri ke tanah akan menimbulkan sifat rendah diri (tawadhu’), karena biasanya kemarahan disertai dengan rasa angkuh dan penuh kesombongan. Ketika kita menempelkan diri ke tanah, maka akan mengingatkan kita kepada asal mula penciptaan kita.
Keempat, segera untuk berwudhu. Ketika marah menghampiri seseorang maka hendaklah ia segera untuk berwudhu. Rasul SAW. bersabda “Sesungguhnya kemarahan berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api, dan api itu dipadamkan dengan air, karena itu jika salah seorang diantara kalian marah, maka hendaklah ia mengambil air wudhu”. (HR. Imam Ahmad). Ibnu Qoyyim Al-Jauziah mengatakan “Tidak seorangpun dapat memadamkan gejolak emosi dan nafsu birahi kecuali dengan wudhu dan salat. Adapun wudhu, karena ia adalah air dan amarah adalah api, dimana api dapat dipadamkan dengan air. Sedangkan salat, karena ia adalah munajat kepada Allah dan amarah timbul dari bisikan setan, bagaimanapun langkah setan tidak akan bisa menghalangi kehendak Allah. inilah kebenaran nyata yang tidak perlu membutuhkan bukti dan logika.” (Bada’ul fawaid, 2/494-495, Ibnu Qoyyim Al-Jauziah).
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi terapi marah
Marah merupakan bentuk ekspresi emosi yang ditimbulkan oleh pengaruh lingkungan sekitar manusia, dimana biasanya orang akan menjadi terpancing emosi marahnya apabila mendapatkan stimulus-stimulus yang mengancam atau mengusik ketenangan dan kenyamanan seseorang, misalnya orang akan marah jika dia di caci maki, di hina, dipukul, atau bahkan dilecehkan oleh orang lain. Secara global Asy-Syahawi (2005) membagi faktor-faktor yang mempengaruhi orang sehingga orang bisa menjadi marah, yaitu kondisi fisik, kondisi psikis, dan kemungkinan lain adalah karena moralitas yang tidak baik.
Pertama, kondisi fisik yang kurang baik. orang akan cenderung marah karena menderita suatu penyakit, misalnya orang yang sakit gigi akan marah jika di dekatnya ada orang yang membunyikan type atau suara yang besar-besar. Kondisi fisik yang melemah akan menyebabkan rendahnya kontrol emosi seseorang.
Kedua, kondisi psikis. Orang yang memiliki mental yang sehat dan kodisi kejiwaan yang stabil akan membantunya mengontrol emosinya. Sebaliknya orang yang sedang mengalami tekanan, stress, dan depresi. Biasanya mereka akan mudah terpancing emosinya dan akan mudah marah. Biasanya hal-hal yang berifat sepele saja, tapi tidak disukai oleh orang yang mengalami gangguan kejiwaan ini akan memicu kemarahan dan kemurkaan yang luar biasa.
Ketiga, moralitas yang tidak baik. orang-orang yang sering melakukan perbuatan buruk, memiliki akhlak yang kurang baik, dan sering berbuat kejahatan akan membuat orang tersebut mudah marah. Karena mereka terbiasa dengan perbuatan-perbuatan setan dan mereka jauh dari Allah SWT. Bahkan sifat amarah sudah menjadi tabiat yang melekat pada diri mereka dan secara tidak sadar pun tabiat tersebut akan muncul tanpa dipikirkan.
Faktor-faktor di atas secara tidak langsung akan mempengaruhi proses terapi, karena ketiga faktor di atas sangat berpengaruh kepada kondisi seseorang disaat menjalankan terapi ini. Terutama dua faktor terakhir yang disebabkan oleh faktor psikologis, yaitu kondisi fisik dan moralitas yang tidak baik. di dalam proses terapi kedua faktor ini akan dicoba dihilangkan. Sedangkan faktor yang pertama, yaitu kesehatan fisik mungkin bisa ditangani secara medis.
C. Unsur-unsur yang ada dalam terapi amarah
Dalam terapi marah yang telah dibahas di atas maka dapat kami simpulkan bahwa ada dua unsur yang ada dalam terapi ini. Dimana kedua unsur ini bisa menjelaskan dinamika rasa marah di dalam diri kita.
Pertama, unsur biologis, yaitu terjadinya perubahan-perubahan di dalam tubuh orang yang sedang marah, atau reaksi-reaksi fisiologis yang ditandai dengan perubahan hormon-hormon tertentu di dalam tubuh. Biasanya orang yang sedang marah bisa dilihat dari tanda-tanda biologisnya, misalnya mukanya menjadi memerah, pupil matanya membesar, detak jantungnya semakin cepat, orang yang sedang marah juga akan merasakan telinganya memanas. Ini disebabkan oleh perubahan kerja jantung secara drastis yang berusaha memompa darah ke wilayah tubuh bagian atas.
Di dalam Islam keterkaitan antara tubuh atau badan (body) dan Jiwa (mind) diakui sebagaimanan yang terdapat di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yaitu yang diriwayatkan dari Nu’man bin Basyir dia berkata,”Aku telah mendengar Rasulallah SAW. bersabda “Ketahuilah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging, bila ia baik, maka baiklah seluruh jasad itu dan bila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah bahwa dia adalah Qalbu.” (Muttafaqun ‘alaih). Diponegoro (2008) mengatakan bahwa minddalam hadis ini dikaitkan dengan qalbu, sedang body dikaitkan dengan jasad. Nampak sekali bahwa qalb itu sehat dan baik, maka seluruh tubuh akan sehat dan baik, tetapi bila qalb rusak maka rusak juga seluruh tubuhnya.
Dalam kaitannya dengan terapi yang kami tawarkan pada tulisan ini, menurut hasil penelitian di Kota Panama wilayah Florida Dr. Ahmad Al-Qadhiy (United States of America) mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an memepengaruhi tubuh manusia dibuktikan dengan terjadinya perubahan-perubahan fisiologis di dalam tubuh kita. Terutama terjadinya perubahan syaraf-syaraf otak secara langsung sehingga mempengaruhi organ tubuh yang lainnya. Qadhiy juga mengungkapkan bahwa bacaan-bacaan Al-Qur’an akan menyegarkan kembali syaraf-syaraf otak yang tegang. Sehingga hal ini kan mempengaruhi kerja sistem tubuh yang lainnya.(httpmajlisdzikrullahpekojan.orgsains-islampengaruh-quran-terhadaporgan-tubuh).
Kedua, unsur psiklogis adalah tabiat atau akhlak yang terbentuk melalui berbagai pengalaman-pengalaman belajar yang salah. Panksepp mengatakan bahwa berdasarkan data penelitian tentang emosi, yang menunjukan bahwa keadaan-keadaan emosional-motivasional seperti rasa marah bisa muncul tanpa kita pikirkan. Kemudian Wilson menambahkan bahwa terkadang kita dengan benar merasakan atau mempelajari sesuatu tanpa usaha sadar apapun; maksudnya intuisi kita sering terbukti valid karena hal itu datang dari bagian dalam otak yang tidak berada di bawah kendali sadar. Menurut Izard, semua penelitian ini konsisten dengan teori Freud bahwa kita dapat mengalami ransangan dalam diri yang tidak kita fahami secara kognitif (Friedman dan Schustack, 2008).
Konsep Psikologi tentang Terapi Marah
Mengelola dan mengendalikan emosi marah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya kita menggunakan metode terapi dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunah Rasulallah SAW. metode tersebut adalah dengan membaca isti’adzah, berdiam diri, merubah posisi tubuh, dan dengan bersegera untuk wudhu ketika marah menyerang. Untuk menjelaskan metode ini secara kontekstual maka kita meminjam teori-teori Psikologi Barat yang relevan dengan konsep terapi ini. Selanjutnya kami akan menjelaskannya sebagai berikut.
Pertama, apa yang terjadi ketika kita membaca isti’adzah?. Isti’adzah adalah ucapana’ȗdzubillahiminasy syaithȃnir rajȋm (Aku berlindung dengan Allah dari godaan setan yang terkutuk), yang merupakan bacaan yang diperintahkan oleh Allah SWT. ketika kita akan membaca Al-Qur’an dan ketika kita meminta perlindungan Allah SWT. dari godaan dan kejahatan setan yang terkutuk. Bacaan isti’adzah tentu bukan hanya sekedar bacaan biasa tanpa memberikan pengaruh pada diri dan jiwa seseorang. Apalagi ketika kita membaca bacaan ini dengan hati yang khusuk dan iman yang kuat akan pertolongan Allah SWT. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal [8] : 2).
Isti’ȃzdah merupakan salah satu bentuk bacaan dzikir sekaligus merupakan doa yang ditujukn kepada Allah SWT. Menurut Supradwi (2008) bacaan-bacaan dzikir dapat berpengaruh pada fisiologis tubuh dan mental psikologis individu. Dan hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa ada pengaruh dzikir dalam menurunkan afek negatif pada mahasiswa. Dimana afek negatif merupakan bisa berupa rasa tegang, kecewa, gugup, ngeri, memusuhi, mudah tersinggung, malu, gelisah, dan takut, umumnya bisa diartikan sebagai perilaku penyesuaian sosial yang kurang baik dan kurang mampu untuk bekerja sama dengan individu lain. Selain itu hasil-hasil penelitian empiris antara lain penelitian yang berhubungan dengan do’a, atau kegiatan keagamaan universal yang berpengaruh terhadap aspek fisiologis individu. Misalnya penelitian mereka yang aktif berdo’a atau bersilaturrahmi, ternyata memiliki kondisi fisik yang jauh lebih baik daripada mereka yang jarang bahkan tidak pernah berdo’a (Diponegoro, 2008).
Iman, tauhid, dan ibadah kepada Allah menimbulkan sikap istiqamah dalam perilaku. Di dalamnya terdapat pencegahan dan terapi penyembuhan terhadap penyimpangan dan penyelewengan, dan penyakit jiwa. Seorang mukmin yang berpegang teguh kepada agamanya, maka Allah akan menjaga semua ucapan dan perbuatannya. Sedang, imannya memeliharanya dari penyimpangan dan penyelewengan serta penyakit jiwa (Musbikin, 2008). Meredam kemarahan bagi seorang Muslim tentu akan menimbulkan efek positif disebabkan kekuatan yang mendorong perubahan perilakunya bukan hanya faktor eksternal saja, tetapi lebih dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu iman dan tauhid, serta keyakinan akan pahala dari Allah SWT.
Kedua, dengan berdiam diri. Pada tinjauan ilmu syaraf , ditunjukkan bahwa emosi dibentuk oleh multi struktur di dalam otak .Proses cepat , minimal, dan evaluatif signifikansi emosional yang berasal dari sensor data , diproses ketika data yang ada melewati amygdala, dalam perjalanan dari organ sensor sepanjang jalur syaraf menuju limbic otak di bagian depan .Tentang bagiamana emosi dilampiaskan tergantung pada kebiasan individu , pola kepribadian, juga adat istiadat yang dianutnya . Kemarahan mengakibatkan perubahan-perubahan fisiologis dalam tubuh.
Marah dapat merubah fungsi organ tubuh. Terkait dengan ini, Mardin mengungkapkan hasil penelitian ilmiah mengenai pengaruh fisiologis akibat kecemasan telah mengungkapkan adanya berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormonlainnya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul (www.scribd.com/doc/32694859/bab-14-mengelola-emosi). Sehingga apabila perubahan tersebut tidak diikuti dengan ekspresi tubuh maka reaksi fisiologis tubuh tadi akan sedikit terbendung. Tetapi, ketika reaksi fisiologis diikuti dengan ekspresi tubuh yang agresif maka hormon-hormon yang ada didalam tubuh akan terstimulasi untuk bereproduksi.
Ketiga, merubah posisi tubuh ketika sedang marah. Metode terapi ini erat kaitanya dengan sistem fisiologis manusia, di dalam psikologi dikaji dalam psikologi faal, yaitu suatu cabang ilmu psikologi yang mengkaji tentang pengaruh perubahan-perubahan fisiologis tubuh terhadap perilaku dan kejiwaan manusia. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam biologi bahwa kemarahan menstimulasi saraf simpatik dari sistem otonom, saraf tubuh yang memang bekerja untuk merespon kondisi stress seperti trauma, takut, hipoglisemia, dan saat olahraga. Saraf simpatik beraktivitas beragam pada tubuh dan terlihat sekali pada orang marah. Dimulai dengan dilatasi pupil mata (mydriasis). Kemudian juga menstimulasi peningkatan kecepatan dan kekuatan kontraksi otot jantung. Pembuluh darah berkonstriksi (menyempit) mengakibatkan darah mengalir dengan cepat, bersinergis dengan kerja jantung yang meningkat mengakibatkan tekanan darah meningkat. Tekanan darah yang meningkat drastis di otak itulah yang dapat menyebabkan pusing. Pada saat marah proses peningkatan tekanan yang terjadi di pembuluh darah otak atau jantung yang telah elastisitasnya berkurang, misal pada kasus atherosklerosis ataupun arteriosklerosis, dapat berakibat sudden death. Kemudian menstimulasi saraf otonom yang bekerja di luar kesadaran kita sehingga akan berakibat fatal pada tubuh kita. Respon saraf simpatik lain bekerja pada medula adrenal menstimulasi sekresi adrenalin dan juga pada organ reproduksi. (sumber:http://swestika.blogspot.com/2008/11/proses-fisiologi-marah.html).
Setelah kita meninjau dari sudut pandang faali, maka jelas bahwa ketika marah hormon-hormon yang ada di dalam diri kita akan berubah drastis. Sehingga perubahan-perubahan hormon ini akan mengakibatkan kemarahan seseorang.
Pengaruh yang diakibatkan oleh berbagai kondisi terhadap curah jantung, sehingga mempengaruhi tekanan darah menurut William F. Ganong (dalam Khumaidati, 2005) sebagai berikut:
Tabel. Pengaruh aktivitas tubuh terhadap kondisi curah jantung
Perubahan
Kondisi / Faktor
Tidak ada perubahan
Tidur
Perubahan moderat suhu lingkungan
Meningkat
Kekhawatiran dan perasaan mendebarkan
Makan
Oralah raga
Suhu lingkungan tinggi
Kehamilan
Epiretrin
Menurun
Duduk / berdiri dari posisi berbaring
Penyakit jantung
Dari tabel di atas dapat kita simpulkan bahwa beberapa aktivitas dan kondisi tubuh mempengaruhi perubahan naik atau turunnya tekanan darah termasuk di dalamnya ketika posisi berdiri, duduk, dan berbaring.
Keempat, untuk segera berwudhu ketika rasa amarah merasuki tubuh kita. DR. Ir. Ibrahim Karim (ketua organisasi energi visalitas, Kairo, Mesir) membandingkan energi spiritual dengan gerakan tambahan ketika seseorang berdzikir dengan asmȃul husnȃ, wudhu, salat, membaca Al-Qur’an, dan mengumandangkan adzan. Selanjutnya Karim mengatakan bahwa ketika seseorang berwudhu, sebenarnya ia sedang membasuh daerah-daerah wudhu, yaitu bagian tubuh manusia yang tampak dan terkena energi gerakan tambahan yang timbul dari diri orang lain, ketika berwudhu, energi ini akan rontok bersamaan dengan air wudhu yang dapat menjadikan seseorang berkonsentrasi di dalam salatnya (Musbikin, 2008).
Berdasarkan penelitian Masaru Emoto (2006) bahwa air memiliki suatu bentuk energi sensitif yang sulit dilihat (disebut Hado). Begitu juga dengan semua benda yang ada di alam semesta ini. Energi ini bisa berbentuk positif atau negatif, dan mudah dipindahkan dari benda satu ke benda yang lainnya. Hal ini terbukti dengan eksperimen yang dilakukan Emoto terhadap air yang di stimulasi dengan kata-kata baik dan kata-kata buruk. Air yang diberi simulus dengan kata-kata yang baik akan membentuk kristal-kristal yang indah dan tersusun secara tertur dan indah. Sedangkan air yang diberi stimulus dengan kata-kata kotor/buruk akan menghasilkan kristal-kristal yang tidak teratur.
Jika demikian adanya, bahwa penelitian mutakhir membuktikan air bisa dipengaruhi dan begitu juga sebaliknya air bisa juga mempengaruhi karena semua benda di dunia ini memiliki energi (Hado) yang bisa ditransformasikan dari benda satu ke benda yang lainnya termasuk tubuh manusia, oleh Emoto (2006) disebutkan bahwa pikiran dan tubuh manusia dipengruhi oleh gelombang intrinsik benda lain yang digunakan untuk membentuk resonansi. Dalam hubungan antar manusia kerap kali kita mengatakan kita tidak cocok dengan seseorang, sebenarnya hal ini ada kaitannya dengan gelombang dan resonansi. Maka ketika kita berwudhu Islam mengajarkan umatnya untuk berdo’a dengan bacaan-bacaan yang baik serta mengandung pujian. Rasulallah SAW. ketika hendak berwudhu beliau membaca “Bismillah...” artinya
Dengan nama Allah (aku berwudhu)” (HR. Abu Dawud no. 101, Ibnu Majah no. 399) di dalam (Jawas, 2008).
Hasil Terapi Marah
1. Mereduksi reaksi-reaksi fisiologis dalam tubuh saat kemarahan merasuki tubuh manusia.
2. Memberikan efek positif dalam mengendalikan emosi secara terarah dan terkontrol sesuai dengan tujuan fitrah manusia.
3. Menumbuhkan keistiqamahan seseorang di dalam beribadah kepada Allah SWT.
Kesimpulan dan Saran
Terapi marah merupakan suatu proses pengobatan dan penyembuhan rasa amarah yang ada di dalam jiwa manusia dengan bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Terapi marah yang digunakan bisa dengan Ilmu atau dengan Amalan. Terapi marah dengan amalan berupa membaca isti’adzah ketika amarah merasuki tubuh, berdiam diri, merubah posisi diri dari berdiri, menjadi duduk, kemudian berbaring, dan yang terakhir adalah segera berwudhu. Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa keempat terapi di atas berpengaruh pada reksi-reaksi fisiologis yang ada dalam tubuh manusia. Bukti-bukti ini menunjukan bahwa terapi amarah melalui amalan ini efektif dalam mengontrol dan mengatasi rasa amarah dalam jiwa manusia.
Bagi peneliti selanjutnya penulis sarankan untuk meneliti terapi marah melalui Ilmu, dan lebih mendalami danpak-danpak psikologis dari terapi ini, ataupun danpak-danpak lainnya sehingga konsep-konsep terapi mara di dalam Islam bisa di objektivikasikan kedalam wilayah kontekstual.
Lampiran
Daftar Pustaka
Adz-Dzaky. H.B. (2008). Konseling dan Psikoterapi Islam. Yogyakarta: Al-Manar
Asy-Syahawi, M.M. (2005). Saat-Saat Rasulallah SAW. marah. Jakarta: Pustaka Azzam.
Echols, J.H & Shadily, H. (1984). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.
Emoto, M. (2006). The True Power Of Water. Bandung: MQ Publishing.
Friedman, H.S & Schustack, M.W. (2008). Kepribadian: Teori Klasik dan Riset Modern; Edisi ke 3, Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Jawas, Y.B.A.Q. (2008). Doa dan Wirid: Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al-Qur’an dan As-Sunah. Jakarta: Pustaka Asy-Syafi’i.
Kuntowijoyo. (2007). Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Mujib, A. (2007). Kepribadian Dalam Psikologi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Musbikin, I. (2008). Melogikakan Rukun Islam: Bagi Kesehatan Fisik dan Psikologi Manusia. Yogykarta: Diva Press.
Shaleh, A.R. (2008). Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Persfektif Islam. Jakarta: Kencana.
Supradewi, R. (2008). Efektivitas Pelatihan Dzikir Untuk Menurunkan Afek Negtif Pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi, Vol. 1, No, 2, 199-215.
________ 15 Desember 2010. httpmajlisdzikrullahpekojan.orgsains-islampengaruh-quran-terhadaporgan-tubuh.
Sumpeno, W. 1 Januari 2011. www.scribd.com/doc/32694859/bab-14-mengelola-emosi.
Walgito, B. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It

Translate

Follow by Email